Pemimpin TI Terbukti Mampu Ubah Ketidakpastian Jadi Kesempatan

Every cloud has a silver lining, pasti ada hikmah di balik setiap ujian. Sebuah kiasan yang tepat disematkan pada kondisi saat ini. Ketidakpastian situasi politik dan ekonomi global ternyata justru melahirkan “spesies” baru inovator digital, demikian menurut hasil survei 2017 Harvey Nash/KPMG CIO Survey Di tengah ketidakpastian ekonomi yang melanda banyak organisasi sehingga mereka kesulitan merencanakan bisnis, strategi digital merasuki organisasi bisnis di seluruh dunia dalam tingkatan yang sama sekali baru.

Survei tahunan Harvey Nash/ KPMG menemukan proporsi organisasi yang memiliki strategi digital dengan skala enterprisewide meningkat 52 persen dalam waktu dua tahun terakhir ini. Jumlah organisasi yang memiliki Chief Digital O cer pun bertambah 39 persen dibanding tahun 2016. Sementara itu, untuk membantu mewujudkan startegi digital yang kompleks, berdasarkan jawaban para responden yang datang dari 86 negara, terungkap bahwa bahwa kebutuhan organisasi akan pakar arsitektur enterprise (Enterprise Architect) mengalami peningkatan 26 persen. Terhadap perubahan bisnis, politik dan ekonomi, begini respon 4498 pemimpin teknologi informasi (TI) yang disurvei: menciptakan/ mengaplikasikan platform teknologi yang lebih gesit (52%); bekerja dengan anggaran terbatas (49%); dan berinvestasi pada cyber security (45%). Ada tiga taktik utama yang mereka terapkan: memberi lebih banyak waktu untuk berinovasi (54%); menjalin kemitraan dengan organisasi inovatif, misalnya institusi akademis (52%); dan menyiapkan anggaran terpisah untuk inovasi (31%).

Dalam hal pengelolaan TI, para responden yang datang dari 86 negara ini, antara lain, akan mengimplementasikan metodologi agile (28%); membeli solusi berbasis “as a service” (19%); dan menggunakan pendekatan multi-mode IT (15%). Dan salah satu ancaman terbesar yang sudah dan akan terus mereka hadapi adalah serangan siber. Sepertiga dari responden melaporkan bahwa organisasinya mendapat serangan siber yang fatal dalam kurun waktu 24 bulan. Sementara hanya 21 persen menyatakan sangat siap menghadapi serangan cyber attack. “Sukses (menerapkan) teknologi selalu menjadi tantangan, dan survei tahun ini memperlihatkan bahwa hal itu akan semakin sulit,” ujar Albert Ellis (CEO, Harvey Nash Group) seperti dikutip dari rilis yang dimuat di situs web survei Harvey Nash/KPMG. Kendati teknologi dan perubahan lanskap politik dan ekonomi terus berkejaran, ada satu hal yang pasti, menurut Ellis. Yaitu, para eksekutif di bidang teknologi mampu mengubah ketidakpastian (uncertainty) menjadi satu kesempatan atau peluang (opportunity) dengan mendorong organisasinya menjadi lebih gesit dan digital. CIO pun semakin kokoh menancapkan pengaruhnya dalam organisasi bisnis.

Jajaran direksi berpaling pada pemimpin TI untuk membantu menavigasi organisasi menaklukkan kompleksitas, ancaman, dan peluang di era digital. “Organisasi sudah ‘move on’ dari sekadar membuat strategi dan bicara tentang digital, mereka kini mewujudkannya. Yang kami lihat saat ini adalah implementasi aktif di mana-mana,” cetus Lisa Heneghan, Global Head of Technology, Management Consulting, KPMG. Hasil dari survei yang digelar sejak 19 Desember 2016 sampai dengan 3 April 2017 itu memperlihatkan bahwa Digital Leaders mengambil pendekatan pragmatis, menerapkan teknologi dan otomatisasi di seluruh lini bisnis organisasi, termasuk di fungsi-fungsi back o ce. Organisasi kini dalam tahap menciptakan atau membangun platform untuk mempersiapkan transformasi yang lebih luas