Dua Sisi Enkripsi pada Instant Messaging

Pertengahan Juli kemarin, dunia digital Indonesia dihebohkan dengan keputusan pemerintah memblokir aplikasi instant messaging Telegram. Alasannya, Telegram sering digunakan sebagai sarana berkomunikasi dan koordinasi bagi para pelaku aksi terorisme. Telegram memang menjadi pilihan para pelaku aksi terorisme dalam berkomunikasi. Sebuah studi yang dirilis oleh MEMRI Jihad and Terrorism Threat Monitor dan MEMRI Cyber Jihad Lab pada akhir tahun 2016 lalu menyebutkan, Telegram dipilih karena menawarkan tingkat privasi yang sangat tinggi yang membuat percakapan di dalamnya sulit disadap pihak lain.

Telegram juga menawarkan enkripsi end-to-end yang membuat setiap pesan hanya bisa dibaca oleh pengirim dan penerima, dan tidak disimpan di server Telegram. Selain itu juga masih ada beberapa faktor lain yang membuat Telegram menjadi platform pilihan, seperti kapasitas grup yang lebih besar, dan kanal publik yang bisa digunakan untuk menyebarkan propaganda.

Menyoal Dilema

Akan tetapi jika dilihat dalam konteks lebih luas, saat ini enkripsi sebenarnya sudah menjadi fasilitas standar aplikasi instant messaging. Bukan cuma Telegram, beragam aplikasi instant messaging lainnya juga menerapkan enkripsi untuk menjamin privasi penggunanya. BlackBerry Messenger (BBM) mungkin menjadi salah satu aplikasi instant messaging paling populer. Pengiriman pesan pada BBM dilakukan dengan menggunakan enkripsi metode Triple Data Encryption Standard (Triple DES) yang akan dikirimkan ke server BBM sebelum diteruskan ke PIN penerima.

Awal tahun 2016 kemarin, WhatsApp juga telah menerapkan enkripsi untuk setiap pesan yang dikirimkan melalui aplikasi tersebut. Mereka menggunakan security protocol milik Whisper Systems, yang sebelumnya memiliki instant messaging Signal. Pembicaraan dan status WhatsApp bahkan dienkripsi secara default, tidak seperti Telegram yang harus mengakti an terlebih dahulu. Beberapa aplikasi lain seperti Apple iMessage dan Line juga menawarkan fi tur enkripsi end-toend. Seluruh catatan percakapan pada iMessage bahkan hanya bisa dibawa pada smartphone pengirim dan penerima, tidak bisa dibaca oleh Apple sekalipun. Catatan percakapan hanya bisa diakses jika pengguna melakukan backup ke iCloud.

Sedangkan Line juga menawarkan fi tur Letter Sealing yang harus diakti an oleh pengguna. Percakapan lain yang tidak menggunakan Letter Sealing akan tetap tersimpan dan bisa dibaca oleh Line. Enkripsi pada aplikasi instant messaging menjadi sebuah dilematika. Di satu sisi, perusahaan pemilik aplikasi dapat memberikan rasa aman dan melindungi privasi penggunanya dengan baik. Di sisi lain, penggunaan enkripsi bisa dijadikan alat yang dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang memiliki maksud jahat. Tidak heran jika “perang” terhadap enkripsi di instant messaging tidak cuma terjadi di Indonesia.

Sejak Juli 2015, Pemerintah China telah memblokir sepenuhnya akses Telegram di negeri tirai bamboo tersebut. Sedangkan Pemerintah Iran memblokir fasilitas voice-call Telegram pada April 2017 kemarin, setelah sebelumnya membatasi penggunaan fasilitas stiker (yang sering digunakan pengguna untuk mengejek pemerintah). Pertanyaan besarnya, apakah usaha memblokir layanan seperti Telegram akan efektif? Mengingat dunia digital selalu membuka celah untuk menembus batasan, memblokir sebuah layanan hanya akan mendorong mereka yang berniat jahat untuk mencari cara lain. Yang terkena getah justru warga digital “baik-baik” yang sebenarnya hanya ingin memiliki alternatif untuk berkomunikasi.